k

Kumpulan Shalawat

Adab (4)
  • Akhlak (2)
  • Akidah (5)
  • Annisa (1)
  • Cinta (4)
  • Dzikir dan Do'a (7)
  • Fiqih (6)
  • Hikmah (90)
  • Kisah (43)
  • Kisah Nabawi (9)
  • Lensa (3)
  • Manaqib (7)
  • Pantun (8)
  • Puisi (2)
  • Qasidah (27)
  • Rasulullah SAW (36)
  • Shalat (6)
  • Shalawat (13)
  • Tassawuf (7)
  • Teladan (5)
  • Tokoh (15)
  • Wasiat (44)
  • Wirid (1)
  • Kisah Teladan

    Adab (4)
  • Akhlak (2)
  • Akidah (5)
  • Annisa (1)
  • Cinta (4)
  • Dzikir dan Do'a (7)
  • Fiqih (6)
  • Hikmah (90)
  • Kisah (43)
  • Kisah Nabawi (9)
  • Lensa (3)
  • Manaqib (7)
  • Pantun (8)
  • Puisi (2)
  • Qasidah (27)
  • Rasulullah SAW (36)
  • Shalat (6)
  • Shalawat (13)
  • Tassawuf (7)
  • Teladan (5)
  • Tokoh (15)
  • Wasiat (44)
  • Wirid (1)
  • Jualan

    Adab (4)
  • Akhlak (2)
  • Akidah (5)
  • Annisa (1)
  • Cinta (4)
  • Dzikir dan Do'a (7)
  • Fiqih (6)
  • Hikmah (90)
  • Kisah (43)
  • Kisah Nabawi (9)
  • Lensa (3)
  • Manaqib (7)
  • Pantun (8)
  • Puisi (2)
  • Qasidah (27)
  • Rasulullah SAW (36)
  • Shalat (6)
  • Shalawat (13)
  • Tassawuf (7)
  • Teladan (5)
  • Tokoh (15)
  • Wasiat (44)
  • Wirid (1)
  • Jumat, 04 November 2011

    Literatur Fiqih Madzhab Imam Syafi'i

    Literatur buku-buku Fiqh dalam Madzhab Syafi’i Dibandingkan dengan madzhab-madzhab fiqih lainnya, madzhab Syafi’i tentu merupakan madzhab yang paling banyak buku-buku fiqhnya. Dalam maktabah-maktabah, kemungkinan besar buku-buku madzab fiqh Syafi’i ini menghabiskan setengahnya bahkan lebih dari isi maktabah tersebut. Banyaknya buku-buku ini, adalah berkat kejuhudan murid-murid dan ulama Syafi’iyyah. Juga karena buku-buku fiqh Madzhab Syafi’i inisatu sama lain ditulis dengan saling mengacu pada kitab sebelumnya, sehingga berkaitan dan bersambung. Buku pertama dalam madzhab Syafi’i adalah kitab al-Umm karya Imam Syafi’i (w 150H) sendiri.

    Kamis, 03 November 2011

    Sekilah Tentang Al-Allamah Al-Imam As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

    Sanad beliau ke IMam Hanafi :

    Sanad guru-guru sayyid muhammad almaliky ke IMAM HANAFI dari- Syekh muhammad zakaria alkandahlawi (Syaikhul Hadits) dan syekh muhammad idris keduanya dari-kholil al sahhar nafuri dari-abdul ghoni bin abi saed al dahlawi al hanafi dari-muhammad abid alhanafi dari-yusuf bin muhammad al hanafi dari-ayahnya muhammad bin alauddin al mazjaji alhanafi dari-ayahnya alauddin bin muhammad dari-hasan bim ali al ujaimi alhanafi dari-khoiruddin al romly alhanafi dari-muhammad bin siraj al hanuti alhanafi dari-ahmad bin syabli alhanafi dari-ibrahim alkarky alhanafi dari-aminuddin yahya bin muhammad al aqsarani alhanafi dari-muhammad bin muhammad albukhori alhanafi dari-hafidzuddin muhammad bin muhammad bin ali al thohiri alhanafi dari-shodrussyariah ubaidillah bin mas ud alhanafi dari-dari mbahnya tajussyariah mahmud alhanafi dari-ayahnya shodrussyariah ahmad ibnulhanafi dari-abi jamaluddin ubaidillah bin ibrahim almahbubi alhanafi dari-muhammad bin abi bakar al bukhori dari-abil fadhoil syamsyul aimmah abi bakar muhammad alzaranjari alhanafi dari-syamsyul aimmah abdul aziz ahmad al hilwani alhanafi dari-abi ali al khodir bin ali al nasafi alhanafi dari-abi bakar muhammad bin fadhl al bukhori alhanafi dari-alustadz abdullah bim muhammad alharist alhanafi dari-abi hafsusshoghir muhammad alhanafi dari-ayahnya abi hafsh alkabir ahmad bin hafsh albukhori alhanafi dari-muhammad bin hasan al syaibani alhanafi dari-AL IMAM ABI HANIFAH dari-IKRIMAH dari-IBNU ABBAS dari-BAGINDA NABI MUHAMMAD SHALLAHU ALAIHI WASALLAM

    Kamis, 20 Oktober 2011

    25 Pesan Lukmanul Hakim

    1.. Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan SAMPAN yang bernama TAKWA, ISInya ialah IMAN dan LAYARnya adalah TAWAKKAL kepada ALLAH.

    Sayyidul Istighfar

    Allahumma anta Rabbi la ilaha illa anta khalaqtani, wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika ma-statha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya wa abu’u bidzanbi fa-gfir li, fainnahu la yaghfirudz-dzunuba illa anta

    Artinya

    Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, yang tiada Tuhan pantas disembah melainkan Engkau. Tuhan yang telah menciptakan diriku. Aku adalah hamba-Mu dan aku ada dalam perjanjian-Mu, yang dengan segala kemampuanku aku laksanakan perintah-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari segala perbuatan buruk yang aku lakukan kepada-Mu. Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku, sedangkan aku senantiasa berbuat dosa. Ampunilah dosaku karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim)

    Rasulullah membiasakan membaca doa itu dan beliau menyebutkan sebagai Sayyidul Istighfar atau Raja Istighfar. Bahkan, Rasulullah menegaskan, barangsiapa yang membaca sayyidul istighfar pada sore hari dan hamba Allah itu meninggal pada malam harinya hingga terbit matahari ia berhak masuk surga. Barangsiapa yang membaca sayyidul istighfar pada malam hari, kemudian hamba Allah itu meninggal pada siang hari (mulai matahari terbit hingga terbenamnya) ia berhak masuk surga.

    Rabu, 19 Oktober 2011

    Muallaf Yang Masuk Islam Haruskah Bersyahadat di Hadapan Jemaah?

    Secara hukum syariah memang disyaratkan keislaman seseorang itu di saksikan oleh dua orang lelaki dewasa, dalam pendapat lain cukup satu orang yg menyaksikan, tidak lain adalah dengan maksud agar ada orang muslim yg mengetahui keislamannya bila ia ingin menikah misalnya, pastilah ia akan ditolak karena ia masih dianggap non muslim,

    atau bila ia wafat, maka ia tak akan diterima di kuburan muslimin atau tak akan dishalatkan dan dikuburkan secara islam karena tak ada yg mengetahui keislamannya, demikianlah maksudnya disyaratkan keislaman seorang non muslim haruslah ada saksinya.

    Namun secara ruh dan batin, walaupun ia tak diketahui oleh orang banyak, selama ia telah mengakui syahadat, maka ia islam dimata Allah swt, dan wajiblah baginya shalat, zakat, puasa dll.

    Bukan mustahil seorang pastor atau uskup misalnya, ketika hampir menemui ajalnya lalu ia mendapat hidayah dan bersyahadat dalam hatinya, maka ia dikuburkan dengan cara nasrani, namun ruh nya tetap dalam keridhoan Allah swt..

    Adakah Mushaf Ali?

    Sebelum Khalifah Utsman ra mengumpulkan seluruh sahabat radhiyallahu 'anhum, beberapa sahabat sudah ada yg menulis ayat ayat Al Qur'an, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, namun beliau menuliskannya berdasarkan urutan turunnya ayat, ayat pertama adalah Al A'alaq 1-5, lalu kemudian Al Muddatsir, lalu Al Qalam, lalu Al Muzammil, lalu Al Lahb, Attakwir, dst.

    Namun setelah sahabat dikumpulkan, yaitu di zaman Sayyidina Utsman bin Affan, maka Sayyidina Ali kw pun menyetujui susunan tersebut dan memusnahkan mushaf yg lain, untuk agar tak terjadi ikhtilaf kelak.
    Jazahullah khairul jaza alaihim ajma'iin.. yg sangat menjaga agar tak terjadi perbedaan pendapat pada ummat yg selanjutnya. Betapa luhur murid murid Rasulullah saw ini, dan mereka manusia manusia termulia dalam Ummat ini.
    [Sumber : kitab Al Itqan fi ulumil qur'an juz 1 hal 291)

    Tambahan :
    Kitab Al Itqan fii Uluumilqur'an adalah salah satu kitab Induk dan Marja' bagi para Imam Imam Ahlussunnah waljama'ah dalam permasalahan Al Qur'an. kitab ini ditulis oleh Al Hafidh Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi rahimahullah, beliau adalah salah seorang Muhaddtis besar yg terkemuka, dan beliau ini telah hafal lebih dari satu Juta hadits Rasul saw dengan sanad dan hukum matannya, belum lagi keluasan Ilmu beliau dalam segala cabang Ilmu Syariah lainnya,. Nafa'anallah bi'ilmihi fiddarain amiin.

    Apakah Mushaff Usmani Itu?

    Dizaman Khalifah Utsman bin Affan ra, beliau mengumpulkan para sahabat dari Kalangan Huffadh dan Qurra', untuk menuliskan Al Qur'an dalam satu kitab. Karena Al Qur;an masih terpisah pisah, ada yg dihafal, ada yg tertulis di kulit onta, di dinding dinding rumah dls, dan ada beberapa sahabat yg telah mengumpulkannya, namun masing masing menulisnya senndiri sendiri.

    Maka para sahabat dikumpulkan oleh Utsman bin Affan ra mengapa?, agar tak terjadi perbedaan pendapat kelak.

    Jazahullah Khair Sayyidina Utsman radhiyallahu 'anhu Khairuljaza. Atas jasa beliau kita masih mengenal Al Qur'an dan tidak berbeda pendapat dalam keabsahannya, karena disaksikan dengan Jumhur seluruh sahabat, dari seluruh Huffadh, Qurra?' Ulama, kalangan Ahlulbaitirrasul saw, kalangan Muhajirin, kalangan Anshar, dan lainnya radhiyallahu'anhum.
    [lihat ktb Itqon fi ulumil qur'an juz 1 hal 279-283]